Dalam Mengelola Kartu Utang terdapat 4 materi yang akan dibahas, yaitu:
- Mempersiapkan Pengelolaan Kartu Utang
- Mengidentifikasi Data Utang
- Membukukan Mutasi Utang Ke Kartu Utang
- Menyusun Laporan Utang
- Serta Latihan Soal dan Jawabannya
Pada postingan ini yang akan dibahas yaitu Mengidentifikasi Data Utang. Untuk pembahasan yang lainnya, silahkan klik pembahasan yang ingin dipelajari.
A. DATA UTANG
Utang terjadi karena adanya pembelian
secara kredit barang atau jasa. Transaksi tersebut akan berpengaruh negatif
terhadap saldo utang karena menambah jumlah utang atau kewajiban yang harus
dibayar. Sewaktu terjadi pembelian secara kredit, transaksi tersebut akan
menyebabkan hutang bertambah, dan akan di catat pada kolom kredit, yang artinya
menambah saldo utang. Transaksi pembelian kredit juga dapat berpengaruh positif
terhadap saldo utang. Hal ini bisa terjadi sewaktu ada retur pembelian
(pengembalian barang) yang dibeli karena cacat atau tidak sesuai dengan contoh
dan pelunasan hutang. Trasaksi ini menyebabkan hutang berkurang dan akan
dicatat pada kolom debet dan berkurangnya saldo utang. Mekanisme mutasi dapat
dilihat pada gambar 1.
![]() |
| Gambar 1 Mutasi Kartu Utang |
Keterangan :
- Mencatat pembayaran kas/pelunasan utang dan retur pembelian (mengurangi hutang).
- Mencatat pembelian kredit (menambah utang).
- Mencatat saldo awal dan saldo akhir, yang memiliki saldo normal di kredit.
1. Utang Dagang
Perusahaan yang melakukan pembelian secara kredit, akan memiliki catatan utang yang di simpan oleh kreditor. Pencatatan mutasi utang terjadi karena adanya pembelian, retur pembelian, dan pelunasan utang dapat dilakukan dengan menerapkan salah satu dari dua prosedur pencatatan mutase utang yang ada, sesuai dengan kebijakan manajemen perusahaan. Kedua prosedur mutasi utang tersebutb adalah :
a. Prosedur satu akun utang untuk tiap kreditor (Account payable procedure)
Jika perusahaan kecil dan belum memiliki jumlah kreditor yang banyak, maka cocok menggunakan Account payable procedure. Jurnal yang diperlukan pada metode ini adalah : Jurnal Pembelian, Pengeluaran Kas dan Jurnal Umum.
Dokumen/bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur ini adalah sebagai berikut :
- Faktur pembelian dari kreditor sebagai bukti adanya pembelian secara kredit.
- Kuitansi yang merupakan dokumen pembayaran utang dari debitur.
- Nota kredit/nota debet sebagai bukti adanya pengembalian barang yang dibeli (retur pembelian).
Pencatatan mutasi utang dengan prosedur dilakukan sebagai berikut :
- Faktur dari kreditor disetujui untuk dibayar.
Bagian utang akan mencatat faktur ke dalam jurnal pembelian dan membukukan jurnal pembelian ke rekening buku besar utang dan kartu utang masing-masing.
- Faktur dibayar
Bagian akuntansi akan membukukan pembayaran ke Jurnal Pengeluaran Kas. Dari jurnal pengeluaran kas diposting ke rekening buku besar yang terkait dan ke kartu utang masing-masing kreditor.
b. Prosedur utang voucher (voucher payable procedure)
Prosedur ini, tidak menggunakan kartu utang, tetapi menggunakan arsip voucher (bukti pengeluaran kas) yang disimpan menurut abjad atau menurut tanggal jatuh tempo.
Bukti transaksi/dokumen yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1) Voucher (Bukti Pengeluaran Kas)
Voucher adalah formulir yang digunakan sebagai bukti pengeluaran kas yang akan dibayar. Fungsi voucher antara lain sebagai berikut.
- Perintah kepada bagian kasa untuk membayar utang kepada kreditor sesuai yang tertera dalam voucher.
- Pemberitahuan adanya pembayaran utang.
- Dokumen dan catatan akuntansi mengenai utang yang telah dibayar.
Voucher berisikan informasi-informasi sebagai berikut :
- No. voucher (Bukti Kas Keluar/BKK), No. Cek, dan tanggal pembayaran.
- Nama dan alamat kreditor.
- Keterangan (No, tanggal, jumlah yang harus dibayar, dan syarat pembayaran)
- Akun-akun yang harus didebet.
- Nama-nama petugas yang terlibat dalam procedure voucher.
Contoh : bentuk voucher dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.
2) Voucher Register
Voucher Register adalah suatu buku jurnal yang mencatat semua voucher yang dikeluarkan dan dicatat menurut aturan nomornya. Fungsi voucher register adalah sebagai berikut.
- Tempat untuk mencatat voucher-voucher yang disiapkan untuk dibayar.
- Sebagai Jurnal Pembelian.
- Sebagai penetapan skala prioritas dalam pembayaran dan menjamin prosedur persetujuan yang benar bagi setiap pengeluaran kas.
Contoh : bentuk voucher dapat dilihat pada gambar 4.
3) Cek Register
Cek register merupakan buku harian yang digunakan untuk mencatat cek-cek yang dikeluarkan. Register ini digunakan bersamaan dengan voucher register. Cek register memiliki bentuk bermacam-macam, misalnya sisa potongan cek yang terjilid, buku khusus, atau dalam bentuk file pada komputer.
Fungsi cek register adalah sebagai berikut :
- Tempat mencatat cek yang dikeluarkan untuk utang voucher yang telah dibayar.
- Sebagai Jurnal Pengeluran Kas
Contoh : bentuk Cek register dapat dilihat pada gambar 5.
![]() |
| Gambar 5 Cek Register |
Metode pencatatan utang dengan voucher payable procedure terdiri atas du acara, yaitu sebagai berikut :
1) One time voucher procedure
Dalam metode ini, setiap faktur dari pemasok dibuatkan satu set voucher rangkap tiga lembar untuk bagian akuntansi keuangan/kasa, dan kreditur.
One time voucher procedure dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:
- One time voucher procedure dengan dasar tunai
- One time voucher procedure dengan dasar waktu
a) One time voucher procedure dengan dasar tunai (Cash Basis).
Langkah-langkah dalam metode ini adalah sebagai berikut :
- Bagian akuntansi mengarsip faktur yang diterima dari pemasok menurut tanggal jatuh tempo.
- Setelah tanggal jatuh tempo, bagian akuntansi membuat Bukti Kas Keluar dan mencatat ke dalam Jurnal Kas Keluar.
Berikut adalah ilustrasi One time voucher procedur dengan dasar tunai (Cash Basis), dapat dilihat pada gambar 6.
![]() |
| Gambar 6 One Time Voucher Procedure dengan Dasar Tunai |
b) One time voucher procedure dengan dasar waktu (Accrual Basis/ful-fledget voucher system).
Langkah-langkah dalam metode ini adalah sebagai berikut :
- Bagian utang membuat bukti kas keluar pada saat faktur diterima.
- Atas dasar bukti kas keluar, dilakukan pencatatan transaksi pembelian ke dalam register bukti kas keluar (voucher register)
- Setelah tanggal jatuh tempo, voucher register dikirim ke bagian kasa.
- Atas dasar voucher register, bagian kasa membuat cek untuk dibayarkan kepada pemasok.
- Cek yang dikeluarkan, dicatat ke dalam Jurnal Pengeluaran Kas.
Berikut adalah ilustrasi One time voucher procedure dengan menngunakan dasar waktu, pada gambar 7.
![]() |
| Gambar 7 One Time Voucher Procedure dengan Dasar Waktu |
2) Built-up Procedure
Dalam metode ini, satu set voucher dapat dipakai untuk menampung lebih dari satu faktur dari pemasok. Langkah penggunaan metode ini adalah sebagai berikut :
- Bagian akuntansi menerima faktur dari pemasok.
- Faktur oleh bagian akuntansi dicatat ke dalam Jurnal Pengeluaran Kas.
- No. Voucher (Bukti Kas Keluar/BKK) dilampiri faktur untuk arsip.
- Jika diterima faktur dari pemasok yang sama, BKK akan diambil dari arsip oleh bagian akuntansi.
- Bagian akuntansi mengisi BKK dengan informasi dari faktur yang baru diterima.
- BKK dikembalikan di arsip BKK yang belum dibayar (unpaid voucher file).
- Pada saat tanggal jatuh tempo, BKK diambil dari arsip dan dicatat ke register bukti kas keluar.
- Register bukti kas keluar diserahkan ke bagian keuangan untuk dibuatkan cek.
- Cek oleh bagian keuagan dicatat dalam register cek.
- Cek BKK dan dokumen pendukung lainnya dikembalikan kembali ke bagian akuntansi dan diarsip dalam BKK yang telah dibayar (paid voucher file).
Berikut adalah ilustrasi Built-up procedure, dapat dilihat pada gambar 8.
![]() |
| Gambar 8 Built-up Procedure |
2. Utang Wesel
Wesel bayar memberikan bukti resmi bagi pihak kreditor (yang meminjamkan) atas kewajiban yang terjadi seandainya dibutuhkan langkah-langkah hukum untuk menagih utang. Wesel/promes yang telah ditandatangani oleh perusahaan, dicatat di kredit pada perkiraan wesel bayar sebesar nominal yang tertera dalam wesel/promes tersebut. Perkiraan wesel bayar tersebut akan di debet pada saat wesel dibayar.
Contoh : Pada tanggal 1 Maret 2017, Toko Mitra Bangunan setuju memberikan pinjaman kepada PT. Indira Jaya sebesar Rp 100.000.000, atas pembelian kredit yang dilakukan. PT. Indira Jaya setuju menandatangani wesel senilai Rp 100.000.000 dengan tingkat bunga 12% dan jangka waktu 4 bulan. Adapun Jurnal yang di buat oleh PT. Indira Jaya adalah:
Wesel dalam transaksi pembelian barang
1 Maret 2017
Kas 100.000.000
Wesel Bayar 100.000.000
(Mencatat penerbitan wesel bayar berbunga 12%, jangka waktu 4 bulan untuk Toko Mitra Bangunan)
30 Juni 2017
Beban bunga akan disesuaikan sepanjang umur dari wesel tersebut dan harus dicatat secara periodik. Jika PT. Indira menyusun laporan keuangan setengah tahunan, jurnal yang penyesuaian harus di siapkan per tanggal 30 Juni 2017, untuk mengakui beban bunga dan utang bunga sebesar Rp 4.000.000 (Rp 100.000.000 x 12% x 4/12)
Rumus Bunga Berjalan :
Nilai Nominal x Tingkat Bungan Tahunan x Waktu dalam Jangka Waktu Satu Tahun
Rp 100.000.000 x 12% x 4/12 = Rp 4.000.0000
Jurnal Penyesuaian yang perlu di buat :
Beban Bunga 4.000.000
Utang Bunga 4.000.000
Jika PT. Indira menyusun laporan keuangan setiap bulan, maka jurnal penyesuain akan dibuat setiap akhir bulan sebesar Rp 1.000.000 (Rp 100.000.000 x 12% x 4/12)
1 Juli 2017
Pada saat jatuh tempo (1 Juli 2017), PT. Indira harus membayar wesel tersebut sebesar Rp 100.000.000 ditambah bunga Rp 4.000.000. Jurnal yang dibuat adalah :
Wesel Bayar 100.000.000
Utang Bunga 4.000.000
Kas 104.000.000
3. Utang Pajak
a. Pajak Penjualan
Setiap barang yang dijual oleh peritel akan dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN). Nilai pajak ditetapkan sebesar presentase dari harga jual. Peritel akan memungut pajak dari konsumen saat dilakukan penjualan. Secara periodik (umumnya bulanan), jumlah pajak yang di pungut dari konsumen akan disetorkan ke kantor pajak melalui bank/kantor pos yang ditunjuk oleh pemerintah.
Contoh : Pada tanggal 17 Mei, mesin kas PT.Indira Jaya menunjukan penjualan sebesar $ 100.000.000 dan pajak penjualan sebesar Rp 100.000.000 (PPN 10%), jurnal yang dibuat adalah :
Kas 110.000.000
Penjualan 100.000.000
Utang Pajak Penjualan 10.000.000
Saat di setor ke kantor pajak :
Utang Pajak Penjualan 10.000.000
Kas 10.000.000
b. Pajak Penghasilan Karyawan
Pajak penghasilan karyawan yang sampai tanggal neraca belum dibayarkan ke kantor kas negara, dilaporkan dalam neraca sebagai utang pajak. Contoh :
Data daftar gaji dan upah untuk bulan Desember 2017 pada PT. Indira Jaya adalah sebagai berikut :
Jumlah Gaji/Upah Bruto Rp 20.000.000
PPh Karyawan 5% Rp 1.000.000
Gaji/Upah yang harus dibayar Rp 19.000.000
Dari daftar gaji dan upah tersebut, dibuat jurnal berikut :
Beban Gaji/Upah 20.000.000
Utang Gaji/Upah 19.000.000
Utang PPh Karyawan 1.000.000
Jurnal saat Gaji/Upah dibayar
Utang Gaji/Upah 19.000.000
Kas 19.000.000
Jurnal saat utang PPh dibayarkan ke kas Negara
Utang PPh Karyawan 1.000.000
Kas 1.000.000
c. Pajak Penghasilan Perusahaan
Pajak penghasilan perusahaan dihitung berdasarkan jumlah penghasilan netto selama periode pembayaran pajak dan dapat diangsur selama periode yang bersangkutan. Ada kalanya angsuran pajak lebih besar atau lebih kecil dari pajak yang sesungguhnya. Jika lebih rendah dari pajak yang sesungguhnya, dalam neraca akan dilaporkan sebagai utang pajak penghasilan. Contoh : PT. Indira Jaya membayar angsuran pajak penghasilan per bulan untuk tahun 2017 sebesar 5.000.000. Pembayaran dilakukan setiap tanggal 15 bulan berikutnya.
Jurnal yang akan dibuat setiap akhir bulan adalah :
Pajak Penghasilan di bayar dimuka 5.000.000
Utang Pajak Penghasilan 5.000.000
4. Pendapatan Diterima Dimuka
Pendapatan Diterima Dimuka adalah pendapatan yang diterima sebelum barang dikirimkan atau jasa diselesaikan. Contoh pendapatan diterima di muka dapat dilihat pada gambar 9 :
Diasumsikan Ibu Dibyo Tiket, menjual 10.000 tiket konser musik untuk 5 jadwal konser dengan artis dan skedul yang berbeda, dengan harga Rp 500.000. Jurnal yang dibuat saat penjualan tiket:
Kas 5.000.000.000
Pendapatan Diterima Di Muka – Penjualan Tiket 5.000.000.000
Saat masing-masing dari konser telah selesai, maka seperlima dari pendapatan ini telah dihasilkan. Jurnal yang perlu dibuat adalah :
Pendapatan Diterima Di Muka – Penjualan Tiket 1.000.000.000
Pendapatan Tiket Konser 1.000.000.000
5. Utang Biaya
Utang biaya merupakan biaya yang telah menjadi beban pada waktu akuntansi di tutup, tetapi belum dibayar. Beberapa bentuk utang biaya yaitu Utang Gaji, Utang listrik dan telepon, utang bunga. Beberapa contoh utang biaya adalah :
a. Utang Gaji dan Upah (Expense Payable)
Pada Tanggal 31 Desember 2017, PT. Indira mendapati jumlah gaji yang sudah menjadi beban, namun belum dibayar sebesar Rp 85.000.000 Jumlah tersebut akan di lunasi pada tanggal 20 Januari 2018. Jurnal yang dibuat adalah :
31 Desember 2017
Beban Gaji dan Upah 85.000.000
Utang Gaji 85.000.000
1 Januari 2018 (Membuat Jurnal Pembalik)
Utang Gaji 85.000.000
Beban Gaji dan Upah 85.000.000
20 Januari 2018 (Saat Membayar)
Beban Gaji 85.000.000
Kas 85.000.000
b. Utang Bunga
Utang bunga terjadi karena terlewatnya pembayaran sampai penyusunan neraca.
Contoh : Pada tanggal 1 November 2017 PT. Indira Jaya memiliki utang wesel, jangka waktu 4 bulan sebebar Rp 20.000.0000 dengan bunga 12%.
Bunga = Rp 20.000.000 x 12% x 4/12 = Rp 800.000
Jurnal 31 Desember 2017
Beban Bunga 400.000
Utang Bunga 400.000
1 Januari 2018 (Membuat Jurnal Pembalik)
Utang Bunga 400.000
Beban Bunga 400.000
1 Maret 2018 (Saat Pembayaran )
Beban Bunga 800.000
Kas 800.000
c. Utang Listrik dan Telepon
Biaya listri dan telepon dibayar setiap bulan pada bulan berikutnya. Oleh karena itu, biaya listrik dan atelepon yang belum dibayar sampai penyusunan neraca dilaporkan sebagai utang listrik dan telepon. Contoh : PT. Indira Jaya mendapatkan informasi, listrik dan telepon yang sudah menjadi beban sebesar Rp 1.000.000, yang harus di bayar tanggal 5 Januari 2018. Jurnal yang akan dibuat :
31 Desember 2017
Beban Listrik dan Telepon 1.000.000
Hutang Listrik dan Telepon 1.000.000
1 Januari 2018
Hutang Listrik dan Telepon 1.000.000
Beban Listrik dan Telepon 1.000.000
5 Januari 2018
Beban Listrik dan Telepon 1.000.000
Kas 1.000.000
6. Utang Hipotek
Utang Hipotek (mortage notes payable) adalah pinjaman jangka panjang dengan jaminan benda tidak bergerak yang didukung dengan surat perjanjian secara formal. Pembayaran utang hipotek biasanya diangsur setiap enam bulan. Pada saat pinjaman diterima, biasanya peminjam dibebani biaya penyelesaian, biaya provisi dan biaya notaris.
Potongan-potongan yang dibebankan dicatat sebagai beban bunga.
Contoh : PT. Indira Pada tanggal 1 Maret 2017, menutup pinjaman hipotek sebesar Rp 200.000.000 dengan jaminan gedung. Lama pinjaman 10 tahun dengan bunga 12% dibayar dibelakang setiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Biaya provisi dan lain-lain sebesar Rp 1.500.000.
1 Maret 2017
Kas 198.000.000
Beban Bunga 1.500.000
Utang Hipotek 200.000.000
1 September 2017
Jumlah angsuran pada 1 September 2017 adalah sebagai berikut :
Angsuran pertama Rp 20.000.000
Bunga selama 6 bulan = Rp 200.000.000 x 6/12 x 12% = 12.000.000
Jumlah yang harus diangsur 32.000.000
Utang Hipotek 20.000.000
Beban Bunga 12.000.000
Kas 32.000.000
31 Desember 2017
Pada 31 Desember 2017, utang hipotek Rp 180.000.000. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 20.000.000 (angsuran ke 2) harus dibayar pada tanggal 1 Maret 2018 sehingga menjadi utang jangka pendek. Jurnal penyesuaian untuk kasus tersebut adalah sebagai berikut.
Utang Hipotek 20.000.000
Utang Angsuran Hipotek 20.000.000
Pada tanggal 31 Desember 2017, utang hipotek sebesar Rp 180.000.000 disajikan dalam neraca dengan rincian sebagai berikut.
- Rp 160.000.000 digolongkan sebagai utang jangka panjang (Utang Hipotek)
- Rp 20.000.000 digolongkan sebagai utang jangka pendek (Utang Angsuran Hipotek)
Utang hipotek yang sedang berjalan adalah 4 bulan (1 September -31 Desember 2017).
Bunga dihitung dari sisa pinjaman Rp 180.000.000 x 4/12 x 12% = 7.200.000. Dalam neraca disajikan sebagai utang jangka panjang (utang bunga).
Beban Bunga 7.200.000
Utang Bunga 7.200.000
7. Utang Obligasi
Utang Obligasi merupakan surat pengakuan utang oleh pihak yang mengeluarkan kepada pembeli obligasi. Obligasi dikeluarkan oleh perusahaan yang membutuhkan dana yang besar, antara lain perusahaan, universitas dan lembaga pemerintah. Obligasi dapat dijual kepada masyarakat, lembaga-lembaga keuangan/kepada pihak bank sebagai penjamin.
Penerbitan Obligasi
Obligasi dapat di terbitkan pada nilai nominal, dibawah nilai nominal (dengan disconto atau disagio) atau diatas nilai nominal (dengan premi atau agio).
Penerbitan pada Nilai Nominal
1 Januari 2017, PT. Indira Jaya menerbitkan 1.000 lembar obligasi, Suku bunga kontrak 10%, suku bunga efektif 10%, berjangka waktu 5 tahun, bernilai Rp 1.000.000 yang dinyatakan pada 100 (100% dari nilai nominal). Bunga dibayar setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Jurnal yang dibuat dari penjualan tersebut adalah :
1 Januari 2017
Kas 1.000.000.000
Utang Obligasi 1.000.000.000
Pembayaran Bunga
Bunga akan dibayarkan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli sepanjang 10 tahun umur obligasi. Bunga yang dibayarkan sebesar :
Rp 1.000.000.000 x 10% x 6/12 = 50.000.000
Jurnal yang dibuat dengan asumsi, tidak ada akrual bunga sebelumnya :
Beban Bunga Obligasi 50.000.000
Kas 50.000.000
31 Desember 2017
Saat akan di susun laporan keuangan, maka akan dibuat jurnal penyesuaian untuk mengakui beban bunga sebesar Rp 50.000.000. Jurnal yang akan di buat adalah :
Beban Bunga Obligasi 50.000.000
Utang Bunga Obligasi 50.000.000
1 Januari 2018
Saat Pembayaran Bunga semesteran, jurnal yang dibuat adalah :
Utang Bunga Obligasi 50.000.000
Kas 50.000.000
Penerbitan Obligasi dengan Diskonto
1 Januari 2017, PT. Indira Jaya menerbitkan 1.000 lembar obligasi, suka bunga kontrak 10%, suku bunga efektif 12%, berjangka waktu 5 tahun, bernilai Rp 1.000.000 yang dinyatakan pada Rp 926.390.000 (Kurs 92,693% dari nilai nominal). Bunga dibayar setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Jurnal yang dibuat dari penjualan tersebut adalah :
1 Januari 2017
Kas 926.390.000
Diskon Utang Obligasi 73.610.000
Utang Obligasi 1.000.000.000
Penerbitan Obligasi dengan Premi
1 Januari 2017, PT. Indira Jaya menerbitkan 1.000 lembar obligasi, suka bunga kontak 10%, suku bunga efektif 8%, berjangka waktu 5 tahun, bernilai Rp 1.000.000 yang dinyatakan pada 1.081.110.000 (Kurs 108,111% dari nilai nominal). Bunga dibayar setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Jurnal yang dibuat dari penjualan tersebut adalah :
Kas 1.081.110.000
Premi Utang Obligasi 81.110.000
Utang Obligasi 1.000.000.000









Tidak ada komentar:
Posting Komentar